Selasa, 01 Juni 2010

Kanker Serviks

Kita belakangan ini sering mendengar mengenai ‘kanker serviks’. Kanker ini memang menjadi momok bagi perempuan. Menurut data, di Indonesia ini diperkirakan setiap satu jam ada satu orang yang meninggal akibat kanker serviks ini.

Kanker serviks atau yang lebih dikenal dengan istilah kanker leher rahim adalah tumbuhnya sel-sel tidak normal pada leher rahim, perubahan untuk menjadi sel kanker memakan waktu lama, sekitar 10 sampai 15 tahun. Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang berusia kisaran 30 sampai dengan 50 tahun, yaitu puncak usia reproduktif perempuan sehingga akan meyebabkan gangguan kualitas hidup secara fisik, kejiawaan dan kesehatan seksual.

Kanker serviks ini disebabkan oleh Human Papilloma Virus atau yang disingkat HPV. Virus ini bersifat onkogenik (menyebabkan kanker). HPV ini ditularkan melalui hubungan seksual dan melalui penggunaan barang pribadi yang bersamaan, misalnya penggunaan handuk bersama, pakaian bersama. Human Papilloma Virus ini sangat resisten terhadap panas dan proses pengeringan.

Faktor-faktor yang mendukung timbulnya kanker serviks antara lain:

* Menikah di usia muda
* Merokok
* Penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang
* Kehamilan yang sering
* Penyakit menular seksual

Yang menakutkan dari penyakit ini adalah penyakit ini tidak menimbulkan gejala, sehingga kita tidak dapat mendeteksinya, kecuali kita rajin melakukan cek up. Jika kondisi kanker ini sudah memasuki tahapan yang cukup gawat, maka gejala yang timbul antara lain:

* pendarahan dari liang sanggama
* timbulnya keputihan yang bercampur darah dan berbau
* nyeri panggul dan gangguan atau bahkan tidak bisa buang air kecil

Sekarang sudah ditemukan vaksinasi untuk mencegah kanker serviks ini, bahkan vaksinasi ini dapat diberikan pada remaja putri mulai usia 10 tahun. Tentunya ini berita yang menggembirakan bagi semua wanita. Dengan melakukan vaksinasi ini pencegahan dapat dilakukan, dan bagi wanita yang aktif atau sudah berhubungan seksual harus rutin melakukan pap smear atau inspeksi visual.

Lebih baik mencegah daripada mengobati bukan? Baca Selengkapnyah

Obama Tak Bisa Operasikan iPod atau iPad

Senin, 10 Mei 2010 | 11:28 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Orang terkuat di AS, Barack Obama, mengaku bahwa ia tidak tahu cara mengoperasikan iPod, iPad, Xbox, atau PlayStation. Dalam acara kelulusan Hampton University di Virginia, AS, Presiden AS itu mengatakan, ”Dengan iPod dan iPad dan Xbox dan PlayStation—semuanya saya tidak tahu cara mengoperasikannya—informasi menjadi gangguan, pengalih perhatian, bentuk hiburan, bukannya perangkat pemberdayaan, bukannya sarana emansipasi.”

Pernyataan itu adalah bagian dari poin yang memiliki makna lebih luas. Dunia yang terlalu banyak menerima informasi dan kita diami ini telah menjadi beban dan bukannya menjadi sesuatu yang bisa diberdayakan. Obama juga mencatat bahwa “beberapa dari orang-orang aneh dapat dengan cepat mengklaim daya tarik,” dan mengatakan kepada para mahasiswa bahwa mereka “hidup di lingkungan media yang aktif selama 24 jam 7 hari seminggu serta membanjiri kita dengan segala jenis konten dan memaparkan kita ke segala jenis argumen. Namun, beberapa di antaranya tidak selalu sepenuhnya benar.”

Obama mengklaim, gadget dan berbagai tekanan ini “tidak hanya memberikan tekanan baru kepada Anda, tetapi juga memberikan tekanan baru kepada negara kita dan demokrasi kita.”

“Kita cenderung setuju bahwa gadget dan lingkungan jejaring sosial yang kita ikuti bisa memberikan kesenangan. Memiliki ponsel pintar dan koneksi terus-menerus ke internet bisa sangat membantu dalam beberapa kasus. Namun, hal ini juga bertindak sebagai bola pengikat, menahan Anda dan menolak membiarkan Anda bebas untuk hanya bernapas dan menikmati hidup Anda,” ungkapnya. Baca Selengkapnyah

Diet Rendah Kalori Lebih Cepat Bikin Langsing

KOMPAS.com — Ada satu lagi penelitian yang membuktikan bahwa diet adalah cara terbaik untuk menurunkan berat badan.

Buku Clinical Guidelines on the Identification, Evaluation, and Treatment of Overweight and Obesity in Adults menyatakan bahwa cara terbaik untuk menurunkan berat badan adalah menerapkan diet rendah kalori, sejumlah 800-1.200 Kkal per hari. Pola diet ini terbukti dapat menurunkan berat badan sebanyak 10 persen selama enam bulan. Sementara kecepatan penurunan berat badannya adalah 0,5-1,5 kg per minggu. Fakta ini dipaparkan saat peluncuran buku Sure-You-Can-Do-Diet di Fx Senayan, Jakarta, Kamis (27/5/2010).

Namun, sebelum mulai menerapkan diet dengan model apa pun yang Anda kenal, sebaiknya Anda perlu tahu apa makna diet yang sebenarnya.

"Yang disebut diet itu sebenarnya bukan menurunkan berat badan. Diet itu makanan. Jadi, diet yang dimaksud di sini bagaimana menerapkan pola makan yang lebih sehat," ujar Susana STP MSc PDEng CWN CSN, Head of Nutrifood Research Center Division.

Jadi, jika diet yang Anda lakukan untuk menurunkan berat badan adalah sekadar mengurangi makan (seperti tidak sarapan, atau tidak makan malam), jangan kaget bila yang Anda rasakan hanya rasa lapar yang mendera. "Skip makan itu hanya akan menghambat pembakaran kalori," tukas Susana.

Untuk menurunkan berat badan, yang perlu Anda lakukan adalah mengurangi asupan kalori (didampingi dengan meningkatkan aktivitas fisik atau kombinasi keduanya). Kalori diperoleh dari nutrisi, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak. Seperti yang telah disebutkan di atas, batasan yang dianjurkan adalah 800-1.200 Kkal per hari. Anda boleh tetap makan pagi, siang, dan malam, tetapi dengan mengurangi porsinya.

Sebagai contoh, satu sendok nasi putih saja mengandung 24 kalori, nasi uduk 34 kalori, dan nasi goreng 36 kalori. Hitung saja berapa sendok yang boleh Anda konsumsi jika ingin membatasi asupan kalori per hari. Jangan lupa, Anda masih akan menambahkan lauk-pauk dan sayuran ke dalam menu makanan Anda. Baca Selengkapnyah

AIDS

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu.[2][3] Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara.[4] Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia.[5] Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak.[5] Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.[6]

Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Terkadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).
Gejala dan komplikasi
Gejala-gejala utama AIDS.

Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi oleh bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS.[7] HIV mempengaruhi hampir semua organ tubuh. Penderita AIDS juga berisiko lebih besar menderita kanker seperti sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma.

Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik; seperti demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan.[8][9] Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien.
AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat infeksi HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+ (sejenis sel T), makrofaga, dan sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter (µL) darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang diidentifikasi dengan memeriksa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi tertentu.

Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan.[25] Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun. Banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi.[26][27] Orang tua umumnya memiliki kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda, sehingga lebih berisiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat. Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya seperti tuberkulosis, juga dapat mempercepat perkembangan penyakit ini.[25][28][29] Warisan genetik orang yang terinfeksi juga memainkan peran penting. Sejumlah orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV. [30] HIV memiliki beberapa variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda, yang akan menyebabkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula.[31][32][33] Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan dapat memperpanjang rata-rata waktu berkembangannya AIDS, serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.
Penularan seksual

Penularan (transmisi) HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Seks oral tidak berarti tak berisiko karena HIV dapat masuk melalui seks oral reseptif maupun insertif.[34] Kekerasan seksual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina yang memudahkan transmisi HIV.[35]

Penyakit menular seksual meningkatkan risiko penularan HIV karena dapat menyebabkan gangguan pertahanan jaringan epitel normal akibat adanya borok alat kelamin, dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan makrofaga) pada semen dan sekresi vaginal. Penelitian epidemiologis dari Afrika Sub-Sahara, Eropa, dan Amerika Utara menunjukkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar risiko terinfeksi AIDS akibat adanya borok alat kelamin seperti yang disebabkan oleh sifilis dan/atau chancroid. Resiko tersebut juga meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular seksual seperti kencing nanah, infeksi chlamydia, dan trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofaga.[36]

Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan kerentanan pasangan seksual yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan bervariasi pada berbagai tahap penyakit ini dan tidak konstan antarorang. Beban virus plasma yang tidak dapat dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil pada air mani atau sekresi alat kelamin. Setiap 10 kali penambahan jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81% peningkatan laju transmisi HIV.[36][37] Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 karena perubahan hormon, ekologi serta fisiologi mikroba vaginal, dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit seksual.[38][39] Orang yang terinfeksi dengan HIV masih dapat terinfeksi jenis virus lain yang lebih mematikan.
Kontaminasi patogen melalui darah
Poster CDC tahun 1989, yang mengetengahkan bahaya AIDS sehubungan dengan pemakaian narkoba.

Jalur penularan ini terutama berhubungan dengan pengguna obat suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik (syringe) yang mengandung darah yang terkontaminasi oleh organisme biologis penyebab penyakit (patogen), tidak hanya merupakan risiko utama atas infeksi HIV, tetapi juga hepatitis B dan hepatitis C. Berbagi penggunaan jarum suntik merupakan penyebab sepertiga dari semua infeksi baru HIV dan 50% infeksi hepatitis C di Amerika Utara, Republik Rakyat Cina, dan Eropa Timur. Resiko terinfeksi dengan HIV dari satu tusukan dengan jarum yang digunakan orang yang terinfeksi HIV diduga sekitar 1 banding 150. Post-exposure prophylaxis dengan obat anti-HIV dapat lebih jauh mengurangi risiko itu.[40] Pekerja fasilitas kesehatan (perawat, pekerja laboratorium, dokter, dan lain-lain) juga dikhawatirkan walaupun lebih jarang. Jalur penularan ini dapat juga terjadi pada orang yang memberi dan menerima rajah dan tindik tubuh. Kewaspadaan universal sering kali tidak dipatuhi baik di Afrika Sub Sahara maupun Asia karena sedikitnya sumber daya dan pelatihan yang tidak mencukupi. WHO memperkirakan 2,5% dari semua infeksi HIV di Afrika Sub Sahara ditransmisikan melalui suntikan pada fasilitas kesehatan yang tidak aman.[41] Oleh sebab itu, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, didukung oleh opini medis umum dalam masalah ini, mendorong negara-negara di dunia menerapkan kewaspadaan universal untuk mencegah penularan HIV melalui fasilitas kesehatan.[42]

Resiko penularan HIV pada penerima transfusi darah sangat kecil di negara maju. Di negara maju, pemilihan donor bertambah baik dan pengamatan HIV dilakukan. Namun demikian, menurut WHO, mayoritas populasi dunia tidak memiliki akses terhadap darah yang aman dan "antara 5% dan 10% infeksi HIV dunia terjadi melalui transfusi darah yang terinfeksi".
Tes HIV

Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi virus HIV.[51] Kurang dari 1% penduduk perkotaan di Afrika yang aktif secara seksual telah menjalani tes HIV, dan persentasenya bahkan lebih sedikit lagi di pedesaan. Selain itu, hanya 0,5% wanita mengandung di perkotaan yang mendatangi fasilitas kesehatan umum memperoleh bimbingan tentang AIDS, menjalani pemeriksaan, atau menerima hasil tes mereka. Angka ini bahkan lebih kecil lagi di fasilitas kesehatan umum pedesaan.[51] Dengan demikian, darah dari para pendonor dan produk darah yang digunakan untuk pengobatan dan penelitian medis, harus selalu diperiksa kontaminasi HIV-nya.

Tes HIV umum, termasuk imunoasai enzim HIV dan pengujian Western blot, dilakukan untuk mendeteksi antibodi HIV pada serum, plasma, cairan mulut, darah kering, atau urin pasien. Namun demikian, periode antara infeksi dan berkembangnya antibodi pelawan infeksi yang dapat dideteksi (window period) bagi setiap orang dapat bervariasi. Inilah sebabnya mengapa dibutuhkan waktu 3-6 bulan untuk mengetahui serokonversi dan hasil positif tes. Terdapat pula tes-tes komersial untuk mendeteksi antigen HIV lainnya, HIV-RNA, dan HIV-DNA, yang dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi HIV meskipun perkembangan antibodinya belum dapat terdeteksi. Meskipun metode-metode tersebut tidak disetujui secara khusus untuk diagnosis infeksi HIV, tetapi telah digunakan secara rutin di negara-negara maju.
Pencegahan
Perkiraan risiko masuknya HIV per aksi,
menurut rute paparan[52] Rute paparan Perkiraan infeksi
per 10.000 paparan
dengan sumber yang terinfeksi
Transfusi darah 9.000[53]
Persalinan 2.500[44]
Penggunaan jarum suntik bersama-sama 67[54]
Hubungan seks anal reseptif* 50[55][56]
Jarum pada kulit 30[57]
Hubungan seksual reseptif* 10[55][56][58]
Hubungan seks anal insertif* 6,5[55][56]
Hubungan seksual insertif* 5[55][56]
Seks oral reseptif* 1[56]§
Seks oral insertif* 0,5[56]§
* tanpa penggunaan kondom
§ sumber merujuk kepada seks oral
yang dilakukan kepada laki-laki

Tiga jalur utama (rute) masuknya virus HIV ke dalam tubuh ialah melalui hubungan seksual, persentuhan (paparan) dengan cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi, serta dari ibu ke janin atau bayi selama periode sekitar kelahiran (periode perinatal). Walaupun HIV dapat ditemukan pada air liur, air mata dan urin orang yang terinfeksi, namun tidak terdapat catatan kasus infeksi dikarenakan cairan-cairan tersebut, dengan demikian risiko infeksinya secara umum dapat diabaikan.[59] Baca Selengkapnyah

Penyuluhan Tani Pun Kini Pakai Internet

MATARAM, KOMPAS.com - Tidak hanya dominasi orang kota, para petani di desa pun kini dekat dengan internet. Misalnya di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mulai menerapkan program cyber extension yaitu kegiatan penyuluhan pertanian berbasis internet.

"Mulai tahun ini program cyber extension itu diterapkan, namun dimulai di empat BPP (Balai Penyuluh Pertanian) di tingkat kecamatan," kata Kepala Badan Koordinasi Penyuluh (Bakorluh) Pertanian Terpadu (Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan) Provinsi NTB, DR Mashur, di Mataram, Rabu (19/5/2010).

Mashur menyebut keempat BPP itu masing-masing satu di Kota Mataram, Kabupaten Sumbawa Barat, Lombok Timur, dan Kota Bima. Keempat kabupaten/kota yang dijadikan program uji coba cyber extension itu tidak termasuk dalam daerah pemberdayaan petani yang dilaksanakan pada tahun ini.

"Empat kabupaten/kota itu dipilih karena tidak termasuk program pemberdayaan petani yang juga dilaksanakan tahun di enam kabupaten lainnya di wilayah NTB," ujarnya.

Menurut Mashur, saat ini pihaknya tengah berkoordinasi dengan para pihak di empat kabupaten/kota itu untuk penentuan lokasi dan kegiatan pendukungnya. Selain mendapatkan perangkat komputer yang memiliki jaringan internet, BPP di empat lokasi itu juga akan didukung biaya operasional sebesar Rp100 juta/lokasi.

"Selain memberi penyuluhan melalui internet, pengelola BPP itu dapat mengimplementasikan teknik budi daya sayur-mayur dan tanaman lainnya serta mengembangbiakkan ternak sehingga perlu didanai, dan sumber danaya dari APBN," ujarnya.

Mantan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura NTB itu menjelaskan, penerapan cyber extension itu untuk memudahkan penyuluhan kepada para petani, yang dilakukan para petugas lapangan. Melalui cyber extension, penyuluhan dapat dilakukan di Kantor Bakoorluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan tingkat kecamatan atau yang dikenal dengan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) tetapi para petani selaku peserta yang disuluh tetap berada di desanya.

Penyuluhan dengan cara ini dapat dilakukan melalui sejumlah sambungan internet sekaligus di mana setiap peserta dapat melihat wajah peserta maupun penyuluhnya di layar monitor. Cyber extension juga merupakan sistem baru dalam penyuluhan karena selama ini metode penyuluhan yang dilaksanakan yakni sistem latihan dan kunjungan.

Latihan terhadap petugas, petani/kelompok tani, dan gabungan kelompok tani (gapoktan), demikian pula kunjungan secara periodik petugas BPP ke petani dan gapoktan secara periodik oleh para penyuluh.

Selain itu, aktivitas penyuluhan juga melalui penyebaran informasi berupa selebaran, brosor, dan buletin serta pemutaran film tentang pertanian melalui mobil unit yang berkeliling ke desa-desa. "Nantinya, pola penyuluhan makin beragam, selain cara-cara lama juga akan diwarnai dengan penyuluhan berbasis internet," ujar Mashur.

Kini, jumlah penyuluh pertanian terpadu di NTB tercatat sebanyak 1.830 orang, namun hanya 760 orang yang masih mengabdi sebagai tenaga lapangan dan berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Idealnya satu desa memiliki satu penyuluh sehingga jumlah desa di wilayah NTB mencapai 911 desa, sementara tenaga penyuluh lapangan hanya 760 orang, sehingga kekurangan sebanyak 151 orang.

Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (TBPP) atau yang dikenal dengan Tenaga Harian Lepas (THL) di wilayah NTB saat ini mencapai 651 orang, yang dimanfaatkan untuk menutupi kekurangan penyuluh pertanian di NTB. Baca Selengkapnyah

5 Cara Cepat Atasi Wajah Berminyak

KOMPAS.com - Berkeringat, meski rasanya tidak nyaman, tetapi memberi banyak manfaat. Keringat berfungsi mendinginkan dan mendetoks tubuh, sekaligus membersihkan pori-pori dari kotoran, sel-sel kulit mati, dan minyak yang berlebih. Anda hanya perlu rajin mengelap keringat dengan handuk; jika tidak, racun-racun akan menetap di wajah dan menyebabkan pori-pori tersumbat dan berjerawat.

Sayangnya, ketika kita berkeringat akibat cuaca yang panas, wajah kita bisa terlihat berminyak dan make-up jadi luntur. Agar kita tidak repot bolak-balik ke toilet untuk touch-up, coba ubah kebiasaan Anda dalam merawat wajah.

1. Jangan mencuci muka terlalu sering
Saat cuaca begitu panas, pasti Anda merasa ingin sering-sering mengguyur wajah dengan air dingin. Namun busa dan air yang berlebihan ternyata dapat mengikis kelembaban kulit dan menyebabkan kelenjar sebaceous (yang mengeluarkan substansi berminyak yang disebut sebum) bekerja keras untuk melembabkan kulit. Hal ini justru mengakibatkan efek rebound, berupa kulit yang lebih berminyak.

Tetaplah mencuci muka dua kali sehari, sedangkan untuk touch-up pada siang hari lebih baik gunakan toner yang lebih ringan atau tisu wajah dengan pelembab. Anda sangat tidak disarankan untuk produk antijerawat yang sangat intens. "Sebaiknya jangan menggunakan produk yang ditujukan untuk jerawat remaja," kata Howard Murad, MD, seorang ahli dermatologi.

Produk-produk ini menyasar jerawat yang muncul akibat hormon, yang kondisinya sangat berbeda dengan jerawat pada perempuan usia 20-40an. Gunakan produk yang mengandung antiperadangan dan antiinfeksi.

2. Pilih pelembab yang lebih ringan
Produk impor seperti krim wajah untuk udara dingin tidak cocok untuk kulit kita. Meskipun formula antipenuaan yang lebih bergizi akan bekerja efektif saat digunakan malam hari (bisa meningkatkan regenerasi sel kulit dan produksi kolagen yang terjadi secara alami ketika kita tidur), namun losion untuk pagi hari seharusnya lebih ringan. Makeup artist Angela Levin menyarankan Anda untuk menempelkan tisu di permukaan wajah setelah Anda mengaplikasikan pelembab pada pagi hari. Tujuannya agar kelebihan pelembab bisa diangkat dari kulit wajah.

3. Gunakan foundation primer
Jika Anda melabur tembok rumah sebelum mengecatnya, maka begitulah Anda mengaplikasikan primer sebelum memulas foundation. Hal ini dilakukan agar kulit lebih lembut dan tidak mengilap. Produk primer yang ideal seharusnya bebas minyak dan mampu menyerap minyak berlebih pada wajah, sekaligus menutrisi kulit dan tidak menyebabkan kering.

4. Aplikasikan make-up yang tepat
Seperti juga saat memilih primer, memilih formula yang bebas minyak namun antikering juga merupakan kunci saat memilih alas bedak yang baik. Anda yang berkulit berminyak bisa memilih produk yang mengandung penyerap minyak dan bahan conditioning. Pemilik jenis kulit kombinasi dan sensitif, bisa menggunakan produk oil-free yang mengandung SPF 20. Untuk rias mata yang bebas keringat, pilih eye shadow dan eyeliner yang tahan air.

5. Kertas minyak
Cara instan untuk melakukan touch-up di sela-sela kesibukan Anda adalah mengelap wajah dengan kertas minyak. Simpanlah selalu produk kertas minyak di dalam tas Anda. Saat ini juga sudah ada kertas minyak yang mengandung bedak ringan, sehingga wajah Anda langsung segar dalam sekejap. Baca Selengkapnyah

Tips Berbusana untuk si Tubuh XL

KOMPAS.com - Tidak mudah menemukan busana yang pas yntuk si tubuh Extra Large (XL). Mayoritas busana yang dijual di pasaran adalah untuk si tubuh langsing. Meski begitu, bukan berarti si XL tidak bisa tampil fashionable. Dengan mengenali aset tubuh, menonjolkan kelebihan dan menyembunyikan kekurangannya, si XL pun bisa tampil lebih fashionable dan lebih langsing. Ini panduannya!

1. Kenakan busana dalam satu tone (warna). Busana dalam yang warna gelap seperti hitam, biru navy atau merah gelap dapat memberikan ilusi lebih langsing. Meski begitu, lupakan ide memakai warna gelap tapi dengan bahan yang mengilat.

2. Busana si XL memang sebaiknya berwarna gelap, namun Anda juga bisa memakai warna terang untuk detail yang lain seperti kalung, syal, ikat pinggang, sepatu, tas, atau lipstick.

3. Pilih pakaian dengan size yang pas, tidak kekecilan ataupun kebesaran. Busana baggy dapat membuat Anda tampak berantakan, sementara busana terlalu ketat akan menciptakan kerutan-kerutan yang tidak enak dilihat.

4. Jangan membeli busana berbahan stretch kecuali untuk pakaian dalam. Busana berbahan stretch seperti lycra atau jersey akan memberikan efek menggantung yang sangat mengganggu. Bahan lain yang harus dihindari adalah rayon dan sutra.

5. Kenakan pakaian dalam berbahan lycra. Si XL membutuhkan support yang kuat di dalam sana agar tampilan kencang bisa didapatkan.

6. Si XL membutuhkan ekstra tinggi badan agar dapat tampil lebih proposional. Trik paling mudah mempertinggi badan adalah menggunakan high heels atau wedges.

7. No sweater! Coat panjang atau jaket pas badan adalah pilihan yang lebih tepat untuk si XL.

8. Jangan kenakan busana dengan kombinasi warna kontras. Busana semacam ini akan membuat tubuh Anda terkesan terpotong dan terlihat semakin lebar.

9. Kenakan busana yang simpel namun tetap keren. Rok berbentuk balon, detail draperi atau ruffle yang berlebihan, bukanlah teman baik si tubuh XL. Tubuh Anda bahkan akan terlihat lebih besar dari biasanya.

10. Jangan ikuti tren memakai legging atau stoking bermotif karena akan membuat Anda semakin bervolume. Pilih saja legging/stoking polos.

11. Apabila jins Anda terlalu ketat di bagian bokong, ganti panty Anda dengan stoking agar bokong terasa lebih bebas. Caranya, gunting stoking hingga tersisa bagian gelapnya saja. Kenakan stoking tadi sebagai pengganti panty.

12. Mulailah mengoleksi celana bahan dan jins berpotongan low rise. Celana model ini jatuh tepat di pinggul, serta tidak memotong perut dan tubuh bagian samping. Bokong Anda pun jadi lebih terlihat lebih kecil. Si XL harus menghindari celana yang mengecil di bagian bawah seperti harem pants atau celana dengan hem yang lebar.

13. Wajah dapat mengalihkan perhatian dari tubuh, karena itu kenakan make up dan tersenyumlah dengan tulus. Wajah yang ceria adalah aksesoris terbaik bagi Anda. Baca Selengkapnyah